Senin, 19 Oktober 2009

Orasi Aksi Solidaritas Gempa Sumbar Selasa, 6 Oktober 2009



“Assalamu’alaikum wr wb. Alhamdulillahi rabbil alamin. Bersyukur kepada Alloh Swt dengan segala nikmat yang tlah Dia berikan.
Bapak dan Ibu para pengguna jalan raya di Jenderal Soedirman yang saat ini melintas. Mudah-mudahan pepohonan di Jendsoed ini tidak ditebang, tidak ditumpas yang bisa mengakibatkan pemanasan local, Purwokerto jadi panas gersang. Terpanggang.

Bapak Ibu yang baik maaf kami bila mengganggu kenyamanan dan kelancaran berkendara. Sore hari ini kami dari Remaja Islam Masjid Agung Baitussalam, RIMBAS Purwokerto sengaja hadir, sengaja berdiri di jalan untuk menunjukkan wujud solidaritas, bentuk kepedulian kepada saudara-saudara kita seagama dan seiman, setanah air dan sebangsa yang sedang menderita akibat gempa bumi akhir September kemarin.

Bapak Ibu Mas dan Mbak yang baik. Gempa 7,6 Skala Richter yang terjadi 30 September 2009 pkl.17.16 Waktu setempat telah mengakibatkan lebih dari 500 orang meninggal dunia. Ribuan warga lainnya terluka parah. Kerugian harta benda tak terhitung. Sampai hari ini masih ada ± 275 orang masih tertimbun dalam reruntuhan bangunan maupun tanah longsor. Komunikasi terputus, listrik pun padam. Kabar terakhir, semakin banyak warga yang selamat terserang penyakit pernapasan akut atau ISPA, penyakit kulit bahkan stress, trauma dan depresi.

Bapak Ibu Mas dan Mbak yang baik. Kita semua yang ada di Purwokerto, di seantero nusantara, dimana pun berada tak pernah mengira akan ada bencana. Meskipun pasca tsunami hebat Aceh 2006 lalu Pemerintah telah menyiap siagakan pendeteksi gempa namun, namun goncangan dahsyat tetap terjadi. Semuanya ini kehendak-Nya, Dia yang memiliki kita semua, yang memiliki semua yang ada di langit dan di bumi. Ini takdir dari Alloh Swt.

Bapak Ibu Mas dan Mbak yang baik, kami mengajak kepada semua yang melintasi jalan utama kota ini untuk menyisihkan sedikit dari harta kita, dari rejeki kita, dari gaji kita untuk kita sumbangkan kepada saudara kita, para korban gempa di tanah Padang sana. Mereka adakah saudara muslim kita.
Innamal mu’minuna ikhwatun, sesungguhnya setiap muslim itu bersaudara.Oleh karena itu bersegeralah membantu, cepatlah memberi pertolongan kepada saudara kita. Apa yang bisa kita lakukan dari Purwokerto, dari tempat yang terpisah jarak berkilo-kilo meter.

Bapak, Ibu Mas dan Mbak yang baik. Kita bisa membantu dengan doa. Ini yang pertama. Kita doakan dalam sholat kita. Kita sisispkan dalam doa setelah sholat kita. Laksanakan sholat ghaib, sholat jenazah bagi mereka yang meninggal akibat bencana. Doakan mereka Ibu…doakan mereka Bapak…doakan mereka Mas dan Mbak.
Selanjutnya yang kedua, setelah doa, kita juga bisa memberikan dana. Ya, dana yang bisa dibelikan makan, pakaian, obat-obatan, kebutuhan pokok dan bahan bangunan. Ini lah bantuan nyata yang bisa kita berikan. Bantuan yang riil, yang bisa meringankan secara langsung penderitaan mereka.

Bapak, Ibu Mas dan Mbak yang baik, dengan peristiwa besar ini kami menyerukan kepada masyarakat seluruhnya untuk berinstrospeksi diri, mengevaluasi perbuatan kita selama ini. Adalah campur tangan manusia dalam tragedi bencana alam yang melanda tanah air beberapa bulan terakhir.
Alloh Swt berfirman dalam QS Ar-Rum ayat 41. Dzaharal fasada fil barri wal bahri bimaa kasabat aydinnas… Telah tampak kerusakan di muka bumi, di daratan dan lautan karena ulah tangan manusia. Maka marilah kita bertaubat dan menghentikan segala perbuatan dosa kita, perbuatan dosa kecil dan besar. Kita stop sekarang juga perbuatan maksiat kita. Bisa jadi apa yang terjadi baik itu banjir, angin topan, tanah longsor, mewabahnya penyakit menular hingga gempa adalah ulah perilaku kita atau orang-orang jauh sebelum kita ada hari ini.
Perbuatan maksiat dan dosa ditambah perilaku merusak lingkungan dan alam bisa jadi telah mengundang murka Alloh Swt. Kita ingat zaman dulu telah banyak bangsa, komunitas, kaum yang dibinasakan, mereka dihancurkan karena tidak taat akan syariat-Nya, terus berbuat maksiat dan dosa. Na’udzubillah min dzalik. Tentu saja kita semua tidak ingin peristiwa hitam itu terulang.

Bapak, Ibu Mas dan Mbak yang baik, bukan suatu hal yang mustahil bila Alloh Swt menggilirkan bencana di Purwokerto ini. Beberapa waktu yang lalu gunung Slamet yang kita bangga-banggakan ‘batuk dan pilek’, masyarakat 3 kabupaten panik luar biasa. Ternyata benar, jebule gunung Slamet termasuk gunung berapi yang paling aktif di dunia. Ada ± 200an gunung berapi aktif di dunia dan separunya ada di zamrud khatulistiwa. Mereka ada di Indonesia. Rupanya selain menyimpan potensi alam yang indah Indonesia juga bak api dalam sekam yang sewaktu-waktu bisa meletupkan bencana beraneka macam.

Akhirnya Bapak, Ibu Mas dan Mbak yang baik, kami mengajak semua elemen masyarakat untuk bertaubat. Bertaubat ini menyesal telah berbuat dosa dan maksiat, menyadari mudharat yang timbul kemudian bertekad tidak mengulangi. Lalu memperbaiki diri, keluarga dan masyarakat, menaman hutan kembali, menggusur vila-vila yang justru memicu banjir banding, memberantas penyakit masyarakat seperti madat, main, madon, maling. Penjualan miras dan narkoba serta judi harus menjadi prioritas pihak yang berwajib. Maling atau korupsi baik kelas kakap atau teri di semua lini pemerintahan, anggota DPR dari pusat dan daerah mesti meninggalkan perilaku merugikan ini. Prostitusi dan lokalisasi PSK kudu segera dibrantas tentu saja dengan cara yang bijak dan solutif, tidak sekedar operasi penjaringan.

Bapak, Ibu Mas dan Mbak yang baik, yang penting juga kita semakin mendekat pada Alloh Swt, iman kita meningkat gara-gara musibah yang terjadi. Itulah orang yang cerdas, orang yang bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian. Ia manfataakan betul untuk meningkatkan kualitas diri dan amal kebaikan.

Bapak, Ibu Mas dan Mbak yang baik. Saya Bhayu Subrata dan semua temen RIMBAS mengucap terima kasih, syukron dan jazakumullah ahzasal jazaa atas bantuan Bapak, Ibu Mas dan Mbak semuanya sore hari ini. Kami pasti amanah dan kami pastikan apa yang Bapak, Ibu Mas dan Mbak berikan hari ini sampai dan bermanfaat bagi saudara kita di pulau Andalas sana.

Walhamdulillahi rabbil ‘alamin. Wassalamu’alaikum wr wb. Sampai jumpa di surga !

NB: dana yang terhimpun mencapai Rp.4.056.000. Acara yang sama digelar juga pada Sabtu, 10 Oktober 2009 di tempat yang sama.

Minggu, 04 Oktober 2009

Hujan & Olah Raga

Olah raga merupakan hak asasi tubuh. Nutrisi vital bagi jasad. Ia penting sepenting makanan yang tiap hari kita santap. Selain itu sebagai seorang muslim maka berolah raga adalah tanda kita bersyukur atas nikmnat badan yang sehat. Ingat, kita manusia adalah ciptaan-Nya yang paling sempurna. Laqod khalaqnal insaana fii ahsani taqwiim, Al-Qur an menyebutkan dalam Surah At-Tin : 4. Ya, bersyukur adalah menjaga, merawat, mengembangkan dan mengoptimalkan segala yang Alloh Swt berikan.
Masalahnya sudah 1 bulan ini saya tidak berolah raga. Dan pagi ini saya bertekad untuk membayar lunas. Setelah memberi kuliah subuh perdana saya di Masjid Agung Baitussalam di bulan Syawwal ini, di awal bulan Oktober ini. Saya pun bersiap. Alhamdulillah 2 lembar pertama juz 4 telah saya baca. Biasa ‘One Day One Juz’ sebagai amal unggulan menjadi prioritas utama. Sesampai di rumah saya langsung selonjor di kasur untuk membaca Dzikir Pagi Al-Ma’tsurat. Biasanya saya duduk bersila dengan mata terpejam dan mulut melafazkannya lirih di luar. Sambil menikmati udara pagi yang bersih. Namun kali ini beda. Tak terrasa mata ini menutup sangat pelan dan…gelap.
Kamar tampak terang saat ku buka mata satu persatu. Lampu masih menyala. Samar-samar ku dengar suara di dapur. Istriku sedang memasak. Ku melangkah keluar dan ternyata tanah telah basah. Hujan masih tersisa dari langit. Rintik-rintiknya menciprati bumi.
“Hujan deres ya Yang” Ku sapa mesra calon ibu dari anak-anakku
“Iya dari jam 5.30 an” jawabnya sambil terus memasak
“Alhamdulillah, untung saya ngga olah raga” Ku duduk di kursi meja makan
“Kok Alhamdulillah, ngga jadi olah raga kok bersyukur, kan rugi” Ia berbalik.
“Ya Alhamdulillah, coba kalau saya olah raga kan saya bakal kehujanan” jawabku santai.

Aku jadi teringat kisah jenaka si Abu Nawas. Suatu hari Abu kehilangan unta yang sangat ia banggakan. Unta yang kuat, lincah dan mahal. Namun Abu malah mesam-mesem dan berdendang riang. Orang-orang bingung lalu berkerumun.
“Hey Abu, engkau gila ya, baru kehilangan unta terbagus mu, kau malah gembira” Seorang tetangganya heran 7 keliling.
“Alhamdulilah…alhamdulillah…” Abu masih bertahmid sambil bernyanyi
“Hey Abu !” Satu lagi tetangganya kesal
“Saya sangat bersyukur…coba kalau saya pas naik unta kan saya ikut hilang Alhamdulillah…alhamdulillah…” Abu terus bersyukur.


Purwokerto Kota Satria
4 Oktober 2009/ 14 Syawwal 1430
Siapa yang belum shaum Syawwal

Senin, 07 September 2009

Bedug Pendowo


Bedug Pendowo

Masjid itu berdiri megah di seberang alun-alun nan hijau. Agung seagung aktivitas didalamnya; beribadah. Ku tatap lama bangunan mulia itu. Ku ingin segera memasukinya, duduk di dalamnya, berdzikir di dalamnya… selonjor disana, he he capek nih. Perjalanan 2 jam nonstop dari Purwokerto memang cukup melelahkan. Terlebih lagi dalam kondisi puasa. Energy harus dibagi untuk konsentrasi jalan, tenaga mengendarai. Istri lah yang merasa paling capek padahal ia membonceng.
Ya, pengendara dan motor harus istirahat. Keduanya memiliki mesin yang bila terus digunakan akan lekas rusak. Ngademin mesin motor dengan berhenti dan ngademin hati dengan air wudhu. 15 menit menjelang sholat Ashar saya manfaatkan betul untuk tidur… eh bukan, tilawah donk sambil terkantuk-kantuk. Kalau dulu para shahabat menangis saat membaca Al-Qur an tapi kita malah mengantuk ketika membaca Adz-Dzikr. Mata memang membaca tapi hati tidak. Inilah yang membedakan kita dengan generasi terbaik dalam sejarah islam; hadirnya hati dalam ibadah. Lantunan ayat suci-Nya deras mengaliri sekujur tubuh yang letih bersandar lemah di pilar masjid. Adem…
Sore ini, 23 Agustus 2009, tepat pukul.15.20 kita sholat Ashar berjama’ah di Masjid Agung Daarul Muttaqin, masjidnya Kabupaten Purworejo. Menara Masjid Agung itu ada di halaman, terpisah dengan bangunan masjid. Kokoh menantang langit. Di serambi depan ada benda purbakala yang konon terbesar di dunia. Bedug itu bernama Pendowo. Bedug yang dibuat pada tahun ± 1762 Jawa/ 1824 Masehi ini memiliki ukuran panjang 292 cm, lingkar depan 600 cm, lingkar belakang 564 cm. ada 120 paku kayu yang menancap di bagian depan dan 98 di belakang. Diameter depan 194 cm dan 180 diameter belakang. Bedug itu terbuat dari bahan khusus yakni pohon jati yang bercabang lima atau disebut pendowo dari Dukuh Pendowo Desa Bragolan Purwodadi. Bedug ini hanya dibunyikan pada hari Jum’at dan hari besar saja sebagai tanda waktu sholat tiba. Jadi tidak dipukul setiap sholat fardhu. Puas berpose dengan bedug, menara dan masjid kita pun meluncur ke Magelang.
Bedug biasanya ditabuh untuk menandai tibanya waktu sholat sebelum adzan. Namun sebenarnya penanda waktu sholat yang afdhol sudah ada yakni adzan. Teringat sejarah emas saat para shahabat Muhajirin dan Anshr bergotong royong mendirikan Masjid pertama di Madinah An-Munawwarah. Setelah Masjid Quba berdiri -tentunya tidak sebagus sekarang- beberapa shahabat memikirkan cara untuk memberikan tanda waktu sholat sekaligus menyerukan ummat untuk sholat. Ada yang usul menggunakan lonceng tapi ditolak sebab menyerupai kaum Nashrani. Akhirnya salah seorang usul memakai suara manusia. Rasul pun menyuruh Bilal untuk mengumandangkan seruan khas yang kemudian kita kenal dengan adzan.
Bedug memang bukan produk asli Islam. Ia merupakan warisan seni masyarakat Jawa yang sebelumnya menganut agama Hindu. Ini adalah akuturasi budaya. Terkait dengan penggunaan bedug. sebagian ulama mengharamkannya akan tetapi ada pula yang moderat dengan memanfaatkannya. Barangkali inilah fikih dakwah yang dipakai oleh para Wali Songo dulu yakni memanfaatkan budaya untuk mengenalkan islam. Tidak serta merta menghilangkan semua produk Jawa. Bahkan kita mungkin bisa mengklaim bedug adalah karya seni islami selama fungsi bedug hanya sebagai intro adzan bukan menggantikan adzan.

Purwokerto Kota Satria,
28 Agustus 2009