Rabu, 04 November 2009

"Tehnik Menghafal dan Murajaah Al Quran"



Bagi para penghafal Al Quran yang pemula, menambah hafalan mempunyai kesulitan tersendiri. Tetapi seiring dengan waktu kesulitan ini akan terlampaui. Ketika itu kesulitan lain timbul yaitu mengulang hafalan (murajaah). Pada saat hafalan makin bertambah banyak, murajaah juga semakin berat.
Untuk surat-surat yang agak panjang (50 ayat) dan yang panjang (diatas 100 ayat), biasanya kita sangat hafal separuh awal dari surat tersebut. Untuk separuh terakhir sulit bagi kita untuk mengingatnya. Ini akan ditandai dengan “macet” ketika saat memurajaah. Mengapa hal ini terjadi? Hal ini disebabkan kita selalu menghafal/murajaah dari awal surat (ayat 1). Ketika selesai menghafalkan sebuah surat, ayat-ayat awal itulah yang lebih sering dilafadzkan dibandingkan dengan ayat-ayat yang akhir. Sehingga otak kita lebih hafal ayat-ayat awal. Itulah sebabnya kita sangat hafal ayat-ayat awal surat dan sering lupa pada ayat-ayat akhir surat.
Kesulitan kedua adalah ketika kita „macet“ sulit bagi kita untuk mengetahui ayat selanjutnya. Ayat-ayat setelah „ayat macet“ menjadi gelap. Ini dikarenakan kita menghafal secara sekuensial/berurutan, sehingga satu ayat selalu diingat setelah ayat sebelumnya. Sehingga kalau ayat “sebelumnya” macet maka ayat selanjutnya menjadi hilang juga. Dalm hal ini tidak ada cara lain untuk mengingatnya selain membuka mushaf Al Qur’an.
Lalu bagaimana cara efektif untuk menanggulangi masalah tersebut?

Kuncinya adalah ketika proses menghafal sebuah surat dilakukan. Hafalkan surat dengan cara memotongnya menjadi 10 ayat 10 ayat. Di dalam tiap sepuluh ayat potong-potong lagi menjadi 5 ayat-5 ayat.
Misalnya kita menghafal surat An Naba yang didalamnya ada 40 ayat. Caranya adalah sebagai berikut :
1. Hafalkan ayat 1 sampai lancar. Lakukan sampai ayat 5.
2. Kemudian hafalkan secara berurut ayat 1 sampai dengan ayat 5. Ikatlah ayat 1 sampai ayat 5 dengan mengulang-ulangnya bersama-sama sampai lancar. Gerak-gerakkan jari-jari tangan anda sesuai dengan ayat yang sedang di hafal. Bila menghafal ayat 1 gerakkan ibu jari, ayat 2 gerakkan jari telunjuk, ayat 3 gerakkan jari tengah, ayat 4 gerakkan jari manis dan ayat 5 gerakkan jari kelingking.
3. Kemudian hafalkan ayat 6 sampai 10 sambil menggerak-gerakkan jari-jari tangan kiri sama seperti yang dilakukan oleh tangan kanan. Ulang-ulang ayat 6 sampai 10 sampai lancar. Kegiatan ini mengikat ayat 6 sampai dengan ayat 10
4. Sekarang mengulang menghafal ayat 1 sampai 10 dengan sambil menggerak-gerakkan jari sesuai dengan nomor ayat yang dilafazkan. Lakukan sampai lancar. Hal ini mengikat ayat 1 sampai 10.
5. Lakukan langkah diatas untuk ayat 11-20, ayat 21-30 dan ayat 31-40.
6. Terakhir gabungkan semua ayat (ayat 1 sampai 40) dalam surat tsb. Ulang-ulang sampai lancar

Kemudian bagaimana anda murajaah sebuah surat bila kita telah menghafal secara konvensional? Bila surat tersebut ayat-ayatnya pendek maka kelompokkan menjadi 10 ayat-10 ayat. Hafalkan per 10 ayat. Bila suratnya berayat yang panjang-panjang seperti Al Baqarah, Ali Imran, An Nisaa dll, maka pecah 10 ayat menjadi 5 ayat-ayat. Manfaat dari menghafal dengan sistem potongan ini adalah:
1. Ketika murajaah kita tidak selalu harus memulai dari awal surat – ayat1- sehingga untuk surat yang panjang murajaah dapat dilakukan sepotong-sepotong di dalam shalat kita. Misalnya: untuk setiap rakaat shalat kita membaca 10 ayat. Maka ketika shubuh kita sudah dapat murajaah sampai 40 ayat (sunnat shubuh 2 rakaat dan shubuh 2 rakaat). Ini cukup bagus untuk surat An Naba yang 40 ayat. Atau untuk surat yang panjang seperti Al Baqarah, bila dilakukan 10 ayat untuk setiap rakaat shalat, maka selesai shalat isya kita sudah murajaah 100 ayat! Bila ditambah dengan shalat2 sunnah rawatib maka kita bisa murajaah 200 ayat dalam sehari. Dan bila ditambahkan dengan shalat dhuha dan tahajjud kita bisa mnyelesaikan 286 ayat Al Baqarah dalam shalat yang dilakukan sehari semalam!
2. Kita tidak merasa susah murajaah karena seakan-akan kita sedang menghafal surat-surat yang pendek saja. Secara psikologis kita merasa lebih ringan. Dan di dalam memurajaah surat yang panjang kita mempunyai
3. Menguatkan secara merata ayat-ayat di seluruh surat. Bukan hanya ayat-ayat awal surat saja. Ketika memurajaah surat-surat yang panjang dan kemudian terputus oleh kondisi eksternal – tamu datang, telfon berdering, anak menangis, masakan gosong dll- kita masih tetap bisa melanjutkan ayat selanjutnya setelah kondisi eksternal tertangani. Tanpa harus mengulangi dari awal surat. Dengan metoda menghafal konvensional maka kita kita harus selalu mengulangi mulai dari awal surat lagi. Kondisi-kondisi seperti ini akan menguatkan hafalan ayat-ayat awal dan menurunkan kualitas hafalan ayat-ayat akhir.
4. Hafal nomot ayat tanpa kita sadari. Ini adalah bonus yang sangat bermanfaat untuk kita
5. Mengatasi kasus “ayat macet“. Bila macet di satu ayat biasanya akan berhenti memurajaah surat tersebut karena ayat-ayat yang selanjutnya sangat bergantung pada ayat yang macet/lupa. Tetapi dengan sistem ‚potong surat’ ini kita masih tetap bisa terus memurajaah ayat-ayat setelah ayat macet ini. Mengapa ? Karena dalam menghafal sistem ini setiap ayat independen diletakkan dalam memori otak kita. Sebuah ayat tidak hanya dikaitkan dengan ayat yang sebelumnya –seperti dalam sistem menghafal konvensional- tapi juga dikaitkan dengan nomornya (yang diingat secara tidak sadar dengan menggerak-gerakkan jari tangan ketika menghafal). Ketika memori yang terkait dengan ayat sebelum terlupakan maka ada „ pengait“ yang lain yaitu nomor surat. Percaya atau tidak? Anda tinggal mencoba sistem ini dan merasakan hasilnya!
6. Melakukan metoda ini tak sesulit membaca baris-baris di atas. Bila anda melakukannya ini adalah hal yang sangat simpel. Metoda ini menjadikan kita santai dan tidak stres dalam memurajaah. Karena kita mempunyai „petunjuk/milestones“ dalam surat-surat hafalan kita yaitu ayat 1, 11, 21, 31, 41 dst. Kita akan memurajaah „ayat-ayat pendek“, yaitu 10 ayat saja. Cobalah anda praktekkan dan anda akan terkejut dengan hasilnya.
Selamat bermurajaah!

Berburu air minum



Hari kedua saya berburu air minum. Air memang menjadi kebutuhan vital manusia. Konon orang bisa hidup hanya dengan minum saja. Selain itu ± 70 % zat dalam badan kita adalah air [liquid]. Bumi juga didominasi oleh air bahkan volumenya semakin membesar sebab kedua kutub terus mencair seiring retakan lapisan ozon akibat global warming. Ya, penyumbang semua kerusakan ini adalah industri yang dimotori negara-negara maju.
Pagi ini saya kembali memacu kuda besi mengitari kota ini. Dari toko ke toko saya hanya bisa beristighfar. Itu lagi…itu lagi…
“Jangan yang Aqua yaa” begitu pesan temen-temen kantor
Bagi mereka dan banyak muslim lainnya membeli Aqua dan produk lain yang diduga kuat menyumbang dana besar untuk membunuhi saudara seagama di Palestina dan beberapa tanah islam lain adalah sebuah pantangan. Sebuah dosa.

Cerita lain, seorang teman pernah berjam-jam mencari HP dari konter ke konter, dari pusat HP yang satu ke tempat lain di kota ini. Sebenarnya duitnya sangat cukup untuk membeli Nokia seri tertentu dengan spesifikasi yang ia inginkan. Namun ia tidak ingin ikut membiayai perang sehingga ia ‘terpaksa’ membeli merk lain yang bukan produk AS, Yahudi-Israel & sekutunya.

Ya, Aqua cs seperti Coca Cola, Netsle, Intel, Fanta & Sprite, Mc Donald’s, Carrefour, Kiwi, KitKat, Danone, Loreal, Kotex , Johnson-Johnson, Nokia dan semua produk yang seinduk dengannya serta semua produk turunannya adalah produk Amerika dan Israel terbukti kuat menyokong dana perang di Timur Tengah. Ya, sebagian keuntungan penjualan bahkan ada yang lebih dari 50 % nya disumbangkan untuk kepentingan perang baik perang fisik maupun memerangi umat islam lewat media. Adalah Ulama dunia asal Qatar, DR.Yusuf Al-Qaradhawi telah mengeluarkan fatwa bahwa membeli produk AS [& sekutunya] sama saja ikut membiayai perang untuk membunuh manusia di Palestina. Siapa saja pasti tak akan setuju perang apalagi dengan dalih perdamaian yang mengorbankan manusia yang tak bersalah.

Boikot produk Yahuid, Israel dan AS serta sekutunya adalah salah satu solusi. Namun hari ini kita telah terkepung dengan semua itu. Hampir tidak ada produk kita sehari-hari yang bukan produk mereka. Perhatikan para pedagang asongan di terminal, di pasar, di stasiun Aqua lah yang dijajakan padahal yang dibawa adalah merk lain. Memang Aqua telah menguasai pasaran air minum kemasan. Produk unggulan Danone ini sudah memonopoli pasar air minum. Jangan salahkan para pedagang yang menjual produk mereka. Banyak yang tidak tahu atau sudah tahu namun tak punya pilihan.
Dan terbukti beberapa negara pernah ‘nyoba’ memboikot efeknya cukup signifikan bahkan bisa dikatakan telak. Beberapa perusahaan mengalami kerugian yang amat besar. Sayang sekali perlawanan ini tidak serentak mendunia seperti saat doeloe Pangeran Diponegoro dan pahlawan lainnja di seloeroeh noesantara berdjoeang melawan pendjadjah. Merdeka ataoe mati !

Entah sudah berapa kali ada demonstrasi besar mengutuk tindakan kejam agresi militer Israel yang membombardir, membumi hanguskan tanah islam Palestina. Dan seruan boikot produk mereka pun dicanangkan. Namun memang sekali lagi kita tidak bisa berbuat banyak dalam hal ini. Produk mereka sudah telanjur, kadung mewabah, membanjiri dan menguasai hidup kita. Kita menjadi sangat bergantung dengan produk mereka. Atau merasa ga keren, ga modern jika tidak menggunakan produk Barat. Akhirnya kita harus bercermin pada kaidah ushul fiqh, malaa yadroku kulluhu walaa yatroku julluhu, kalau tidak bisa semua jangan tinggalkan semua. Maksudnya bila belum bisa memboikot semua produknya maka bertahaplah melakukannya. Jangan pasrah menyerah.

Subtitute, itulah yang kita butuhkan hari ini. Produk pengganti yang fungsinya sama. Layaknya pemain pengganti atau cadangan dalam tim sepakbola. Second line memiliki keunggulan yang mendekati first line. Insya Alloh kalau seruan boikit produk Yahudi-Israel dan AS ini dilancarkan dibarengi dengan alternative produk pengganti insya Alloh perlawanan ini akan berhasil. Kelemahan saat ini adalah kita tak punya alternatif produk baru. Kalaupun ada ternyata harganya jauh diatas harga produk mereka. Ironis.

Teringat sebuah hadits tentang khamr. Bahwa Rasulullah saw sangat mengecam orang yang terlibat langsung dan tak langsung dalam aktivitas permirasan. Mulai dari yang menyediakan, yang memeras, yang menjual, yang meminta diperas, yang memesan, yang meminum, yang menjadi perantara. Semuanya kecipratan dosa. Padahal Alloh Swt dalam Al-Qur an melarang keras bertolong menolong dalam perbuatan dosa dan kemaksiatan [keburukan]. Dari Aa’ Gym kita mendapat 3M; Mulai dari kita, Mulai dari hal kecil, dan Mulai sekarang. Ayo perlahan kita ganti produk mereka dengan produk lain syukur-syukur produk muslim. Bertahap kita ajak tetanga kita, teman kita mengalihkan produk mereka.

Akhirnya saya berhasil mendapatkan air minum yang sehat non Yahudi-Israel dan AS. Alhamdulillah. Insya Alloh sehat dan rasanya juga enak dan sueger. Capek memang namun ada rasa puas dan bangga serta syukur bisa membeli produk yang tidak menyokong dana perang brutal.

Purwokerto Kota Satria
Pekan IV Oktober 2009

Saatnya menjadi pahlawan


November selalu identik dengan hari pahlawan. Ya, 10 November 1945 yang lalu para pemuda, arek-arek Suroboyo terlibat peperang dengan Belanda. Bong Tomo dan kawan-kawan berjuang dengan gagah berani melawan armada perang tentara negeri kincir angin. Dalam segala keterbatasan pejuang Indonesia bisa mengimbangi serangan udara dan darat musuh. Pekikan “Allohu Akbar!” dan yell ‘merdeka atau mati !’ menjadi api jihad yang berkobar selama pertempuran. Ya, mereka berjihad. Begitu pula Panglima Besar Jenderal Soedirman, Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien, Patimura, Teungku Imam Bonjol dan para pejuang yang lain telah syahid, insya Alloh, gugur sebagai pahlawan. Dan mungkin masih banyak lagi para pejuang yang tidak tercatat dalam sejarah, tidak diingat oleh anak cucu bangsa ini namun Alloh Swt telah mencatat keikhlasan mereka dan pasti membalas kebajikan mereka. Amiin.

Pahlawan, ada yang mengatakan berasal dari kata ‘pahala’ dengan akhiran ‘wan’. Seperti ilmuwan yang berarti orang yang memiliki ilmu tinggi, spesialis dalam satu ilmu tertentu. Bila kita sepakat dengan definisi diatas maka pahlawan adalah orang yang mempunyai banyak pahala. Pahala itu didapat dari rangkaian perbuatan baik. Perbuatan baik yang ditujukan pada sang pemilik pahala yakni Alloh Swt yang maha kaya. Kita juga sering mendefinisikan pahlawan adalah orang yang berjasa bagi nusa bangsa terutama di masa perjuangan pra kemerdekaan dan pasca kemerdekaan. Pahlawan adalah mereka yang berjuang [baca: berperang] kemudian gugur sebagai bunga bangsa maupun hidup sebagai saksi sejarah. Mereka mewariskan bangsa ini, tanah air ini. Kita pun mengenal pahlawan tanpa tanda jasa. Dialah bapak dan ibu guru kita yang digambarkan dengan sangat apik dalam Laskar Pelangi. Semoga nasibnya semakin apik di hari kemudian.

Saudaraku, Islam pun tak pernah sepi melahirkan pahlawan. Mereka yang berislam tak pernah padam, yang memiliki semangat yang hebat, yang berdakwah dengan gagah. Jasa mereka masih terasa hingga hari ini. Ya, kita memeluk islam karena jasa Rasulullah Saw dan para shahabat. Mereka lah pahlawan sejati. Mereka lah panutan kita, sumber inspirasi kita. Begitu pula para ulama kita.
Hari ini kita membutuhkan banyak pahlawan. Orang biasa yang bisa berbuat luar biasa, wajaahidu fillahi haqqa jihaadihi. Orang Indonesia yang bisa berkarya, nahnu qawmun ‘amaliyun, kita adalah generasi yang bekerja nyata. Wong Banyumas yang bisa memberi sebanyak-banyak manfaat bagi sesama, khayrunnaas anfa’uhum linnaas. Ada beberapa hal penting yang perlu kita perhatikan sebagai para pahlawan baru :
1. Keberanian.
Sifat ini melekat dalam diri seorang pahlawan. Tidak disebut seorang pahlawan jika ia seorang penakut dan pengecut. Seorang pahlawan selalu berani menebar kebaikan dan menumpas keburukan [amar ma’ruf nahi munkar], berani menghadapi tantangan dan mengambil risiko, berani merebut peluang dan memanfaatkan kesempatan.
Berani berdakwah dan menegakan syariat islam meskipun terancam dituduh sebagai teroris. Kami bukan teroris, kami hanya aktivis, kami cinta perdamaian berpedoman pada Al-Qur an, begitu lantunan nasyid jihad Islamic Revolution Army [IRA].

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”
[QS.’Ali ‘Imran[3]: 110]
Rasulullah Saw dan 300an shahabat berani bertempur dengan ribuan tentara Quraisy di perang Badar. Keberanian yang berbuah kemenangan. Panglima Besar Jenderal Soedirman berani memimpin peperangan meskipun sakit parah. Buya Hamka gigih & gagah berani mempertahankan fatwa haramnya Natal bersama.
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu." [QS.Fushilat [41]:30]

2. Pengorbanan.
Seorang pahlawan selalu siap siaga berkorban apa saja. Ia bersedia mengorbankan sebagian dari rejekinya untuk orang lain, dengan berzakat, infaq dan sedekah. Ia mau mengorbankan waktu istirahatnya hanya untuk sholat tahajud, bersua dan berdua dengan Sang Khaliq. Bahkan ia sanggup mengorbankan jiwa, raganya untuk Alloh Swt.
“Katakanlah: sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” [QS.Al-An’am [6]:162]
Adalah Abu Bakar r.a mengorbankan semua hartanya fii sabilillah. ‘Umar ibnul Khaththab ‘hanya’ separuh dari hartanya. Atau puluhan pemuda dan pemudi Palestina yang mengorbankan jiwanya dengan istisyahadah [bom syahid] dalam perang melawan penjajah Zionis Israel. Berjihad mempertahankan setiap jengkal tanah islam, kiblat pertama ummat islam.
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.”
[QS.’Ali ‘Imran[3]: 169]

3. Keikhlasan.
Seorang pahlawan akan berjuang, berbuat baik dan beribadah hanya mengharap ridho Alloh Swt. Ada atau tidak ada orang ia tetap berbuat yang terbaik. Ia selalu menjaga kebersihan hati, kelurusan niat dan menyempurnakan ikhtiar. Ia tak memikirkan pujian, cacian, penghargaan dan imbalan dari manusia. Ia juga tak berharap akan dikenang atau dimakamkan di taman makam pahlawan. Kalaupun ada semuanya adalah nikmat dari-Nya. Ia hanya berharap tercatat sebagai hamba-Nya yang sholeh.
“Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” [QS.At-Taubah [9]: 105]

Akhirnya, selamat menjadi pahlawan. Lakukan yang terbaik bagi diri sendiri, bagi teman dan saudara, bagi keluarga dan masyarakat, bagi agama islam dan ummat muslim, bagi nusa dan bangsa. Bagi Alloh Swt, yang maha satu. Allohu a’lam.


Purwokerto Kota Satria
15 Dzulqa’dah 1430 H
3 November 2009
www.bayubarata.blogspot.com