Friday, 17 April 2009 11:01
Tugas utama Rasulullah adalah membawa perubahan. Menerangi yang gelap, memberantas yang bathil. Ada realitas, ada prioritas
Oleh: MS. Yusuf al-Amien *
Pada masa itu peradaban dunia sangatlah kacau, baik di Barat maupun Timur. Keadaan umat manusia sungguh memprihatinkan. Di Barat, orang sudah tidak lagi percaya akan Sang Pencipta, mereka hanya memiliki filsafat untuk menyembah akal. Di Timur, kebodohan menyeret mereka untuk menuhankan patung, berhala, bintang api, dan mentari.
Di jazirah Arab, mereka membunuh bayi perempuan, menganggap wanita bukanlah “manusia”, menjadikan yang lemah sebagai hamba sahaya untuk dijual-belikan dalam komoditi perbudakan.
Itulah gambaran ‘ashru-l-fatrah saat itu. Yaitu masa kealpaan seorang Rasul dari peradaban manusia, semenjak terakhir kali Allah menurunkan Nabi Isa ‘alaihissalam. Masa itu adalah saat di mana umat manusia kering akan wahyu Ilahi yang dapat membimbing mereka kepada ajaran yang benar (lih: Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Maidah: 19).
Oleh karena itu, Allah kemudian mengutus seorang Rasul terakhir, Rasul yang membawa risalah akhir zaman untuk seluruh umat manusia, menunjukkan kepada mereka akan hakekat alam semesta. Dialah Muhammad bin Abdullah, utusan terakhir yang membawa misi agung untuk mengubah keadaan manusia dari keterpurukan multi-dimensi menuju sebuah kejayaan duniawi-ukhrawi.
Misi Perubahan
Tugas utama Rasulullah Muhammad saw adalah membawa perubahan global. Mengubah berarti memperbaiki, memutihkan yang hitam, menerangi yang gelap, menjadikan yang jahil menjadi mengerti, memberantas yang bathil, dan menegakkan yang haq. Persis dengan misi yang dibawa oleh para Rasul sebelumnya. Hanya saja, Muhammad saw. adalah Rasul Universal (rahmah li-l-‘alamin), bukan parsial. Itu artinya tugas yang ia bawa lebih besar dan sangat berat.
Oleh karena itu dalam mengemban misinya, Rasulullah selalu dibimbing wahyu dari langit tentang di mana, kapan, dan bagaimana caranya perubahan itu dibumikan.
Aspek Realitas
Dalam membawa perubahan di zaman yang serba amburadul itu, Rasulullah dituntut dapat membaca kondisi sosio-kultural umatnya, sehingga ia dapat menyusun strategi jitu agar perubahan tersebut berhasil diterapkan.
Contoh kecilnya ketika Rasul membawa misi bahwa minuman keras itu dapat merusak akal. Itu berarti miras (khamr) hal yang terlarang (haram), namun realita mengatakan bahwa minuman keras merupakan hal yang telah mendarah-daging bagi bangsa Arab saat itu. Maka sebuah hal yang sangat amat susah sekali untuk mengubah adat mereka dari yang alkoholik hingga tiba-tiba insyaf dan meninggalkan miras.
Dari observasi realita di lapangan ini, maka siasat tercerdas untuk mengharamkan khamr adalah dengan melalui proses yang bertahap. Maka turunlah pada tahap pertama ayat an-Nahl: 67 yang mengatakan bahwa khamr itu berasal dari sari-pati buah Anggur dan Kurma yang dapat diambil darinya kebaikan dan dapat diambil juga madharat (karena dapat memabukkan), lalu selanjutnya turun ayat al-Baqarah: 219 yang mengatakan bahwa khamr itu ada manfaatnya, akan tetapi madharat-nya lebih banyak.
Selanjutnya Allah menurunkan ayat an-Nisa: 43 yang melarang seseorang untuk shalat dalam keadaan mabuk. Hingga pada akhirnya secara eksplisit dan tegas Allah mengharamkan khamr yang dapat merusak akal pikiran dan merupakan pekerjaan setan yang terkutuk (al-Maidah: 90-91).
Pengharaman khamr adalah salah satu dari sekian banyak pensyariatan yang dilakukan secara gradual dan melalui transmisi bertahap. Bahkan Al-Qur’an sebagai pedoman dan kumpulan risalah Islam juga turun secara berangsur dalam masa 23 tahun (lih: Tafsir Ibnu Katsir: al-Isra’ 106). Ayat-ayat Al-Qur’an juga turun sesuai dengan konteks kejadian (asbab nuzul) agar lebih “terasa membekas” dan dapat diterapkan secara istiqamah (QS. al-Furqan: 32).
Aspek Prioritas
Sudah barang pasti, Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw. adalah sebuah risalah perubahan yang terhimpun dari norma-norma yang dapat mengentas manusia dari kebobrokan menuju perbaikan. Menyembah berhala adalah sebuah ‘kebobrokan’. Dengan demikian hal tersebut harus dihilangkan untuk menuju ‘perbaikan’, yaitu menyembah Dzat Yang Maha Pencipta.
Ajaran Tauhid inilah yang paling fundamental dan lebih prioritas dibanding kewajiban ibadah lainnya. Oleh karenanya, selama 13 tahun Rasulullah berada di Mekah, hanya Tauhid-lah yang terus menerus didakwahkan kepada masyarakat Arab yang saat itu masih menyembah laata dan ‘uzza –tanpa satu pun menghancurkan berhala mereka.– Sedangkan konsep muamalat, hudud, qishas, jihad dan syariat lainnya –yang juga merupakan ajaran Islam– datang di kemudian hari pasca Hijrah ke Madinah.
Telaah Prioritas muncul ketika adanya suhu pertentangan dalam sebuah kasus, yaitu ketika situasi tidak memungkinkan untuk dilaksanakannya dua hal secara bersamaan, atau ketika sesuatu belum dapat diterapkan secara sempurna. Oleh karenanya, akidah Tauhid lebih dikedepankan karena tidak mungkin saat itu juga masyarakat diwajibkan untuk shalat, puasa, zakat maupun haji –meskipun syariat tersebut telah terdapat dalam millah Ibrahim. Lebih baik mereka cukup bertauhid kepada Allah dulu daripada menyembah ‘uzair, lebih baik mereka bersyahadat dulu daripada tidak sama sekali. Singkat kata, “better one than zero”.
Tangga Perubahan
Perubahan memang harus melalui fase-fase bertingkat. Fase yang dilalui tersebut tentu tidak bisa lepas dari analisa lapangan untuk memahami aspek Realitas dan Prioritas. Jika kita pikir, adakah yang menghalangi Allah dengan Kemahakuasaan-Nya untuk menurunkan Al-Qur’an sekali tempo lengkap dengan segala syariat yang kontan harus ditunaikan oleh hamba-Nya? Kenapa pula Allah menciptakan alam semesta dalam 6 masa padahal Ia mampu menciptakannya hanya dengan sekali “Kun!”? Jawabannya adalah; bahwa itu semua merupakan Sunatullah yang harus kita ambil i’tibar dalam hidup kita.
Oleh karenanya, manusia diberikan karunia termulia berupa akal, tidak lain agar manusia dapat berpikir, menganalisa, mentadaburi, hingga kemudian menghasilkan pemikiran yang sehat, lalu barulah berbuat.
Penulis jadi teringat kembali akan fatwa MUI tentang haramnya Golput. Pertama kali mendengar, penulis sempat terhenyak kaget; kenapa haram? Darimana kesimpulan ini dapat dihasilkan? Akan tetapi di sisi lain, secara nalar sehat para ulama itu adalah fakih yang jauh lebih mengenal dan faham betul tentang apa itu syariat Islam, konsep sebuah daulah, sistem demokrasi, hingga kriteria ideal seorang pemimpin. Bagi saya atau bagi kita semua, akan ada statemen penting. Fatwa MUI-nya yang salah atau kita yang belum tahu?
Namun belakangan hari penulis mulai mengerti, bahwa MUI ternyata memiliki pandangan futuristik dengan melakukan tinjauan aspek realitas dan prioritas masyarakat Indonesia. Penulis mensinyalir bahwa MUI tengah membuat skenario Misi Perubahan yang besar dan Fatwa itu hanyalah sebuah episode pertama dari rentetan episode bersambung lainnya yang mungkin belum ditayangkan.
Realitanya, Indonesia adalah negara republik yang menganut sistem demokrasi dengan pemilu sebagai cara untuk memilih pemimpin. Persis dengan bangsa Arab jahiliyah yang saat itu terlanjur kecanduan khamr. Prioritasnya, lebih baik negeri ini memiliki pemimpin daripada harus menganut sistem anarki (tanpa pemimpin) yang mafsadat (kerusakannya) jauh lebih parah. Lebih baik mengangkat pemimpin yang adil daripada yang kurang adil, atau lebih baik yang agak baik daripada yang tidak baik sama sekali. Singkat kata, “tiada rotan akar pun jadi”.
Dengan demikian “Haram Golput” sebenarnya memiliki arti “Wajib Memilih”. Memilih siapa? Tentu memilih lebih yang baik, bertakwa dan memperjuangkan syariat, atau setidaknya menuju titik ideal tersebut. Karena tidak mungkin seluruh penduduk Indonesia semuanya orang fasik. Walaupun minimal, tentu di sana masih terdapat orang-orang yang memegang teguh kebenaran dan mereka wajib dijadikan pemimpin.
Atau jika saja secara subyektif kita menilai semua orang adalah fasik, tiada calon pemimpin yang adil, maka saat itu pula kita harus berani bertanggungjawab atas tuduhan tersebut dengan menawarkan alternatif dan mengajukan seorang pemimpin yang tidak fasik. Karena kalau hanya dapat menyalahkan, tanpa dapat memberi perbaikan tentu bukanlah sebuah solusi. Hanya dapat berteori, tapi tidak mampu beraksi sama juga bohong. Maka tidak perlu mendakwa perubahan jika harus melangkahi Sunatullah, apalagi sampai menyalah-nyalahkan Ulama', na'udzubillah.
Dalam hal ini pula MUI sebenarnya telah berusaha untuk memberikan sebuah solusi dengan menciptakan episode-episode perubahan yang berawal dari “Wajib Memilih” pemimpin ideal. Episode selanjutnya mungkin DPR akan didominasi oleh para wakil rakyat yang faham agama –lantaran hasil pemilihan sebelumnya,– hingga secara lambat-laun syariat Islam dapat diterjemahkan dalam Undang-undang, demokrasi kian terkikis, dan ending-nya Daulah Islamiyyah pun akan kembali terlahir sebagaimana dulu pada masa Khulafa Rasyidin. Agak bermimpi memang, namun inilah harapan logis.
Tapi terkadang kita sebagai “penonton” kurang sabaran dan maunya langsung menuju episode terakhir. Maunya langsung menuju lantai sepuluh, tanpa meniti dari lantai satu. Maunya instant dan simsalabim! Semuanya berubah. Sehingga ketika stasiun televisi baru menayangkan episode pertama, kita buru-buru menyalahkan sutradara akan alur-ceritanya yang terkesan janggal itu.
Di lain sisi, terkadang kita juga merasa pesimis, dengan keadaan yang sedemikian rupa, apakah episode terakhir itu hanya akan datang kelak ketika munculnya Imam Mahdi? Ataukah happy-ending itu baru akan tiba nanti ketika turunnya Nabi Isa? Wallahu a’lam, sebagai manusia kita hanya diperintahkan untuk berpikir dan berbuat, Allah jua-lah yang menentukan.
Penulis adalah alumnus KMI Gontor, kini menjadi mahasiswa yang tengah menyelesaikan program Licence, konsentrasi Hukum Islam di Universitas Al-Azhar Kairo. Email: yusuf_677@yahoo.com
Minggu, 26 April 2009
Untuku Laraku
Ahad malam kemarin (19/4) )saya mengerang hebat, ada yang menyengat di dalam mulut. Terasa sekali di geraham kiri bawah. Beberapa menit saya hanya bisa menahan sakit. Saya coba SMS temen untuk segera membelikan obat. Alhamdulillah, sedikit reda. Senin siang saya segera ke PMI untuk check up.
“Wah, harus dicabut Mas” kata dokter
“Rabu kesini ya” lanjutnya sambil memberikan resep.
Saya termasuk orang yang ga suka obat. Apalagi obat dari pabrik sedikit banyak mengandung zat kmia yang berbahaya bagi tubuh. Kalau ga suka obat jangan sakit donk. Yee, saya kan ga minta sakit.
Rabu pagi saya sudah duduk di bangku bersama beberapa pasien, orang sakit lainnya. Ya, ini salah satu cara kita untuk memahami nikmat sehat; sering-sering main ke tempat orang sakit, menjenguk si sakit atau nongkong di RS. Ya, jadi inget mati juga. Banyak kematian yang diawali dari sakit.
“Sakit lho Pak, kaya nyabut tanaman” ucapan temen sekantor tadi pagi melintas berkali-kali.
“Hey, jangan nakut-nakutin dong” Seseorang bersuara baik sedikit menghibur.
Saya segera berdzikir sebanyak-banyaknya supaya tenang. Setelah bosan menunggu + 90 menit, saya dipanggil masuk. Saya diminta segera duduk terlentang di kursi operasi. Bu Dokter sudah menghunus suntikan di tangan kanan. Jarumnya mengkilat, tajam sekali siap membiusku. Saya bisa membayangkan jarum suntik itu masuk dengan leluasa ke rongga mulutku dan…menghujam, menembus daging lunak wadah gigi. Saya mengerang. Setelah itu saya hanya merasakan ada sesuatu yang membesar perlahan di dalam mulut. Obat biusnya sedang bekerja. Ada penebalan di gusi kiri bawah. Saya menunggu di luar sementara bu dokter memeriksa pasien yang lain. Dalam kecemasan, saya teringat kisah seorang sahabat yang diprediksi rasul saw gigi gerahamnya lebih besar dari bukit Uhud di akhirat nanti. Beberapa sahabat cemas siapa salah satu diantara mereka yang akan bernasib sengsara. Ternyata ada sorang sahabat yang terluka parah pasca perang, -kalau tidak salah- ia tidak sabar dengan penderitaannya, ia tak ridho lalu memutuskan bunuh diri. Na’udzubillah min dzalik.
Kini saya kembali duduk di kursi eksekusi. Sebuah alat semacam tang sudah ada di tangan Dokter. Ya, itu mungkin tang medis, penjepitnya bundar. Kilatnya menyilaukan nyali. Dokter minta saya relaks saja. Tapi saya ga bisa, saya takut. Ini untuk kali pertama saya mengalami cabut gigi.
“Tenang saja, kalau terasa sampai mata, kelapa pusing berarti sakit. Tapi kalau cuma di rahang itu biasa.” Ujar si dokter.
Tang itu sudah ada di rongga mulutku yang menganga pasrah, ia gesit mencari gigi yang rusak, berlubang dan kropos dan… sekarang ia telah menggigit geraham kiriku, kuat sekali. Ia berhenti, ia tertahan sedetik. Saya bisa merasakan akar gigi yang sangat kuat mencengkeram belum rela berpisah dengan gusinya, belum bisa terangkat. Tak kusangka tiba-tiba Dokter menghentak ! cepat sekali dan…
“Aaaghgh !” Kedua tangan saya keras mengepal. SAKIT !
“Gigit kapas ini, gigit !” pinta bu.dokter.
Kapas tebal itu menutupi lubang bekas gigi. Akhirnya gigiku tercerabut hingga akarnya. Ya, benar seperti tanaman berakar serabut yang tercabut dari tanah tempat ia berada. Akarnya yang sudah menghujam bahkan menyatu membuatnya sempat tertahan. Setelah itu saya tidak bisa bicara sebab menahan nyeri yang teramat. Mulut kiri ku terasa lebih tebal. Alhamdulilah masih sadar dan bisa pulang naik motor. Aku langsung tidur, aku merasakan lemas dan tak berdaya seolah energi ku habis untuk menahan sakit tadi.
Hingga sore hari saya masih merasakan sedikit nyeri di rahang bawah kiri. Ku raba dengan ujung lidah. Masya Alloh ada yang hilang di deretan gerigiku. Ku buka mulut lebar-lebar di depan cermin.
“Masya Alloh lubang…” Saya terpaku, masih ada darah menggenang disana.
** ** ** **
Kita banyak belajar tentang gigi saat kita masih di SD atau SMP. Kita mengenal ada seri, taring dan geraham. Masing-masing punya spesialisasi. Gigi seri untuk menggigit. Gigi taring untuk merobek, mencabik makanan. Dan geraham untuk mengunyah. Ketiganya saling bekerja sama sehingga bisa menghancurkan, mengecilkan, dan melembutkan makanan, dengan air ludah serta lidah, makanan tadi bisa lolos ke tahap pencernaan berikutnya. Maka gigi memiliki peran dan fungsi yang penting dalam tubuh kita. Subhanalloh maha suci Alloh Swt yang menciptakan gigi yang sempurna dengan bentuk, ukuran, warna dan kecepatan tumbuh yang tidak sama dengan rambut atau kuku kita. Warna putih berbeda dengan merahnya gusi. Semua orang di dunia sama. Bentuk dan ukuranya pun sama. Tertata rapi, rapat. Subhanallah, terima kasih yaa Alloh. Bayangkan juga seandainya Dia menakdirkan pertumbuhan gigi-gigi kita secepat rambut atau kuku kita. Apa kata dunia ! Se .. se… setaaaaaan !!!!
Kita tak bisa hidup tanpa gigi. Makanan seenak apapun takkan berguna tanpa gilasan gigi. Semua makanan atau muniman harus melewati bagian depan ini. Rasulullah Saw mencontohkan bila kita mengunyah makanan sampai selembuuuut mungkin, jangan tergesa, jangan balapan. Semua itu demi kesehatan pencernaan kita sehingga bagian dalam tubuh kita tidak bekerja terlalu keras. Keselek tau rasa… Hayati makanan itu mengumpul di sana, berguling-guling, berputar, tergerus, hancur dilumat gerigi dalam mulut kita. Kerja sama yang sangat baik antara barisan gigi atas dan bawah serta goyangan lidah yang tak bertulang menghasilkan performance / kinerja yang spektakuler. Padahal kita ga pernah dilatih oleh bunda bagaimana cara makan. Semua terjadi begitu saja, otomatis romantis. Pernah liat saat mesin cuci -yang kaca beningnya didepan- bekerja memutar balikan fakta, eh pakaian kita, perhatikan…ya kurang lebih seperti itulah mulut kita.
Saat makan rasakan aromanya, lezatnya merasuk ke sela-sela gerigi kita yang tertata rapi, menyatu dengan cairan ludah. Maka nikmatilah saat makan, pelan tapi jangan terlalu. Berdoa lah sebelum makan, Allohumma baariklanaa fimaa rozaktana wa qinaa ‘azadzabannaar, minta pada Alloh Swt agar makanan ini barakah, ada berkahnya. Barakah itu bukan hanya pada enaknya makan tapi pada manfaat yang didapat, kenyang atau cukup. Bahwa makan itu untuk hidup, bukan hidup untuk makan. Berhentilah sebelum kenyang, begitulah anjuran kanjeng Nabi Saw. Makan enak kalau berlebihan, melebihi kadar sepertiga perut dan kekenyangan lalu kita malas, ngantuk, tak berdaya, itu ga berkah. Barakah itu makan enak, cukup, yaa kenyang dikit ga papa, lalu beraktivitas lagi. Kanggo sangu ngibadah, begittu pesen ibu saya. Kata Aa’ Gym, enak itu sedikit dan sebentar. Sate itu enak bila 5 -10 tusuk, makan satu ember tusuk sate pasti nek. Secangkir kopi susu terasa nikmat, enak, silakan minum 1 drum kopi susu pasti muntah. Lalu enak itu hanya di mulut saja, setelah terjun bebas di tikungan tajam kerongkongan tak bisa kita rasakan lagi nikmatnya.
Maka mensyukuri nikmat gigi adalah menghindari, mengurangi mengkonsumsi makanan/minuman yang terlalu panas, terlalu dingin, yang keras-keras. Terus bersiwak lah minimal 5 x sehari sebelum sholat kaya Abul Qasim atau menyikat gigi minimal dua kali sehari kata iklan pasta gigi. Lalu falyaqul khayran awliyasmut, ngomong yang baik, berkata yang positif, bicara kebaikan dan kebenaran kalau ga bisa diam saja. Banyak baca Qur an, baca buku pengetahuan. Oia, kurangi merokok, kalau bisa jangan merokok, itu bisa bikin gigi buram dan kuning.
Gigi juga pemanis wajah. Tersenyumlah dan tertawalah. Tanpa gigi kita akan terlihat wagu, lucu ha ha ha… peyot karena bibir kehilangan penyangga. Kita juga ga bisa bercakap normal, suara dan vokal kita tak jelas. Seganteng-gantengnya pria atau secantik-cantik wanita bila ompong atau giginya ga lengkap jadi jelek juga. Ga’ keren blas ! yakin ga ada yang mau. Walaupun pake kaca mata riben, pake seragam SMA. Maka berdoalah saat bercermin, Allohumma kamaa hasanta kholqi fahassin khuluqi, Duhai Alloh yang mencintai keindahan, baguskanlah rupaku, bentukku sebagaimana Engkau baguskan akhlakku, perilakuku. Lalu mangap lah mulut kita, lihat lekat-lekat rongga di dalam sana. Barisan gigi putih atau agak kuning di langit –langit berpola huruf U sesuai tekstur mulut dan bibir kita. Perhatikan betapa indahnya ciptaan Alloh Swt. Sekarang julurkan lidah, -ga usah mendesah nanti mirip si doggy, tasyabbuh namanya- tajamkan mata di permukaanya, Subhanallah. Disanalah asin, asam, manis dan pahit dikecap. Cermati pula cairan bening yang tak pernah kering membasahi dinding merah mulut kita, kadar banyaknya sudah diatur, pas sekali, tak kurang tak lebih. 1000 x lagi Subhanallah. Wa fiii anfusikum afala tatafakkaruun… dan didalam dirimu ada ayat-ayat Alloh Swt, apakah kita tidak mau berfikir ?
Purwokerto Kota Satria
23 April 2009
Bhayu Subrata
081 327 64 64 81
“Wah, harus dicabut Mas” kata dokter
“Rabu kesini ya” lanjutnya sambil memberikan resep.
Saya termasuk orang yang ga suka obat. Apalagi obat dari pabrik sedikit banyak mengandung zat kmia yang berbahaya bagi tubuh. Kalau ga suka obat jangan sakit donk. Yee, saya kan ga minta sakit.
Rabu pagi saya sudah duduk di bangku bersama beberapa pasien, orang sakit lainnya. Ya, ini salah satu cara kita untuk memahami nikmat sehat; sering-sering main ke tempat orang sakit, menjenguk si sakit atau nongkong di RS. Ya, jadi inget mati juga. Banyak kematian yang diawali dari sakit.
“Sakit lho Pak, kaya nyabut tanaman” ucapan temen sekantor tadi pagi melintas berkali-kali.
“Hey, jangan nakut-nakutin dong” Seseorang bersuara baik sedikit menghibur.
Saya segera berdzikir sebanyak-banyaknya supaya tenang. Setelah bosan menunggu + 90 menit, saya dipanggil masuk. Saya diminta segera duduk terlentang di kursi operasi. Bu Dokter sudah menghunus suntikan di tangan kanan. Jarumnya mengkilat, tajam sekali siap membiusku. Saya bisa membayangkan jarum suntik itu masuk dengan leluasa ke rongga mulutku dan…menghujam, menembus daging lunak wadah gigi. Saya mengerang. Setelah itu saya hanya merasakan ada sesuatu yang membesar perlahan di dalam mulut. Obat biusnya sedang bekerja. Ada penebalan di gusi kiri bawah. Saya menunggu di luar sementara bu dokter memeriksa pasien yang lain. Dalam kecemasan, saya teringat kisah seorang sahabat yang diprediksi rasul saw gigi gerahamnya lebih besar dari bukit Uhud di akhirat nanti. Beberapa sahabat cemas siapa salah satu diantara mereka yang akan bernasib sengsara. Ternyata ada sorang sahabat yang terluka parah pasca perang, -kalau tidak salah- ia tidak sabar dengan penderitaannya, ia tak ridho lalu memutuskan bunuh diri. Na’udzubillah min dzalik.
Kini saya kembali duduk di kursi eksekusi. Sebuah alat semacam tang sudah ada di tangan Dokter. Ya, itu mungkin tang medis, penjepitnya bundar. Kilatnya menyilaukan nyali. Dokter minta saya relaks saja. Tapi saya ga bisa, saya takut. Ini untuk kali pertama saya mengalami cabut gigi.
“Tenang saja, kalau terasa sampai mata, kelapa pusing berarti sakit. Tapi kalau cuma di rahang itu biasa.” Ujar si dokter.
Tang itu sudah ada di rongga mulutku yang menganga pasrah, ia gesit mencari gigi yang rusak, berlubang dan kropos dan… sekarang ia telah menggigit geraham kiriku, kuat sekali. Ia berhenti, ia tertahan sedetik. Saya bisa merasakan akar gigi yang sangat kuat mencengkeram belum rela berpisah dengan gusinya, belum bisa terangkat. Tak kusangka tiba-tiba Dokter menghentak ! cepat sekali dan…
“Aaaghgh !” Kedua tangan saya keras mengepal. SAKIT !
“Gigit kapas ini, gigit !” pinta bu.dokter.
Kapas tebal itu menutupi lubang bekas gigi. Akhirnya gigiku tercerabut hingga akarnya. Ya, benar seperti tanaman berakar serabut yang tercabut dari tanah tempat ia berada. Akarnya yang sudah menghujam bahkan menyatu membuatnya sempat tertahan. Setelah itu saya tidak bisa bicara sebab menahan nyeri yang teramat. Mulut kiri ku terasa lebih tebal. Alhamdulilah masih sadar dan bisa pulang naik motor. Aku langsung tidur, aku merasakan lemas dan tak berdaya seolah energi ku habis untuk menahan sakit tadi.
Hingga sore hari saya masih merasakan sedikit nyeri di rahang bawah kiri. Ku raba dengan ujung lidah. Masya Alloh ada yang hilang di deretan gerigiku. Ku buka mulut lebar-lebar di depan cermin.
“Masya Alloh lubang…” Saya terpaku, masih ada darah menggenang disana.
** ** ** **
Kita banyak belajar tentang gigi saat kita masih di SD atau SMP. Kita mengenal ada seri, taring dan geraham. Masing-masing punya spesialisasi. Gigi seri untuk menggigit. Gigi taring untuk merobek, mencabik makanan. Dan geraham untuk mengunyah. Ketiganya saling bekerja sama sehingga bisa menghancurkan, mengecilkan, dan melembutkan makanan, dengan air ludah serta lidah, makanan tadi bisa lolos ke tahap pencernaan berikutnya. Maka gigi memiliki peran dan fungsi yang penting dalam tubuh kita. Subhanalloh maha suci Alloh Swt yang menciptakan gigi yang sempurna dengan bentuk, ukuran, warna dan kecepatan tumbuh yang tidak sama dengan rambut atau kuku kita. Warna putih berbeda dengan merahnya gusi. Semua orang di dunia sama. Bentuk dan ukuranya pun sama. Tertata rapi, rapat. Subhanallah, terima kasih yaa Alloh. Bayangkan juga seandainya Dia menakdirkan pertumbuhan gigi-gigi kita secepat rambut atau kuku kita. Apa kata dunia ! Se .. se… setaaaaaan !!!!
Kita tak bisa hidup tanpa gigi. Makanan seenak apapun takkan berguna tanpa gilasan gigi. Semua makanan atau muniman harus melewati bagian depan ini. Rasulullah Saw mencontohkan bila kita mengunyah makanan sampai selembuuuut mungkin, jangan tergesa, jangan balapan. Semua itu demi kesehatan pencernaan kita sehingga bagian dalam tubuh kita tidak bekerja terlalu keras. Keselek tau rasa… Hayati makanan itu mengumpul di sana, berguling-guling, berputar, tergerus, hancur dilumat gerigi dalam mulut kita. Kerja sama yang sangat baik antara barisan gigi atas dan bawah serta goyangan lidah yang tak bertulang menghasilkan performance / kinerja yang spektakuler. Padahal kita ga pernah dilatih oleh bunda bagaimana cara makan. Semua terjadi begitu saja, otomatis romantis. Pernah liat saat mesin cuci -yang kaca beningnya didepan- bekerja memutar balikan fakta, eh pakaian kita, perhatikan…ya kurang lebih seperti itulah mulut kita.
Saat makan rasakan aromanya, lezatnya merasuk ke sela-sela gerigi kita yang tertata rapi, menyatu dengan cairan ludah. Maka nikmatilah saat makan, pelan tapi jangan terlalu. Berdoa lah sebelum makan, Allohumma baariklanaa fimaa rozaktana wa qinaa ‘azadzabannaar, minta pada Alloh Swt agar makanan ini barakah, ada berkahnya. Barakah itu bukan hanya pada enaknya makan tapi pada manfaat yang didapat, kenyang atau cukup. Bahwa makan itu untuk hidup, bukan hidup untuk makan. Berhentilah sebelum kenyang, begitulah anjuran kanjeng Nabi Saw. Makan enak kalau berlebihan, melebihi kadar sepertiga perut dan kekenyangan lalu kita malas, ngantuk, tak berdaya, itu ga berkah. Barakah itu makan enak, cukup, yaa kenyang dikit ga papa, lalu beraktivitas lagi. Kanggo sangu ngibadah, begittu pesen ibu saya. Kata Aa’ Gym, enak itu sedikit dan sebentar. Sate itu enak bila 5 -10 tusuk, makan satu ember tusuk sate pasti nek. Secangkir kopi susu terasa nikmat, enak, silakan minum 1 drum kopi susu pasti muntah. Lalu enak itu hanya di mulut saja, setelah terjun bebas di tikungan tajam kerongkongan tak bisa kita rasakan lagi nikmatnya.
Maka mensyukuri nikmat gigi adalah menghindari, mengurangi mengkonsumsi makanan/minuman yang terlalu panas, terlalu dingin, yang keras-keras. Terus bersiwak lah minimal 5 x sehari sebelum sholat kaya Abul Qasim atau menyikat gigi minimal dua kali sehari kata iklan pasta gigi. Lalu falyaqul khayran awliyasmut, ngomong yang baik, berkata yang positif, bicara kebaikan dan kebenaran kalau ga bisa diam saja. Banyak baca Qur an, baca buku pengetahuan. Oia, kurangi merokok, kalau bisa jangan merokok, itu bisa bikin gigi buram dan kuning.
Gigi juga pemanis wajah. Tersenyumlah dan tertawalah. Tanpa gigi kita akan terlihat wagu, lucu ha ha ha… peyot karena bibir kehilangan penyangga. Kita juga ga bisa bercakap normal, suara dan vokal kita tak jelas. Seganteng-gantengnya pria atau secantik-cantik wanita bila ompong atau giginya ga lengkap jadi jelek juga. Ga’ keren blas ! yakin ga ada yang mau. Walaupun pake kaca mata riben, pake seragam SMA. Maka berdoalah saat bercermin, Allohumma kamaa hasanta kholqi fahassin khuluqi, Duhai Alloh yang mencintai keindahan, baguskanlah rupaku, bentukku sebagaimana Engkau baguskan akhlakku, perilakuku. Lalu mangap lah mulut kita, lihat lekat-lekat rongga di dalam sana. Barisan gigi putih atau agak kuning di langit –langit berpola huruf U sesuai tekstur mulut dan bibir kita. Perhatikan betapa indahnya ciptaan Alloh Swt. Sekarang julurkan lidah, -ga usah mendesah nanti mirip si doggy, tasyabbuh namanya- tajamkan mata di permukaanya, Subhanallah. Disanalah asin, asam, manis dan pahit dikecap. Cermati pula cairan bening yang tak pernah kering membasahi dinding merah mulut kita, kadar banyaknya sudah diatur, pas sekali, tak kurang tak lebih. 1000 x lagi Subhanallah. Wa fiii anfusikum afala tatafakkaruun… dan didalam dirimu ada ayat-ayat Alloh Swt, apakah kita tidak mau berfikir ?
Purwokerto Kota Satria
23 April 2009
Bhayu Subrata
081 327 64 64 81
Senin, 20 April 2009
TT DJ

Titi DJ
(haTi-haTi Di Jalan)
Jum’at pagi ini, hari ke-17 di bulan ke-4, saat saya sedang memfotokopi sesuatu di satu tempat di Karangwangkal, kampus belakang Unsoed. Lama sekali saya tidak main kesini, lebih kurang 3 tahun. Banyak perubahan, banyak bangunan baru di sepanjang jalan. Kalau bukan warnet, ya konter. Kalau bukan warung makan, ya laundry. Wuih semakin semarak saja kawasan mahasiswa yang semakin naik daun ini.
“Braak !” secepat kilat aku berbalik.
“Hey pelan – pelan anjing !” suaranya lantang, ia berang.
Tangannya mengeras menunjuk seorang yang baru saja menepikan motor tidak jauh darinya. Ia bangkit dan bergegas menghampiri pemuda yang tidak sempat meelpas helm. Hampir saja terjadi duel hebat. Satu dua warga segera meminggirkan motor yang kelihatannya masih baru. Lampu sen kanannya pecah, pedalnya juga pasti bengkok. Beberapa sisi bodi kanan tampak tergores beradu dengan aspal. Saya sempat memungut sebuah buku yang terjatuh saat ia terguling.
“Public Policy, buku AN” lirih suaraku sambil menunggu lalu lintas agak sepi. Saya letakan saja di jok motornya. Tak lama kemudian mereka berdua pergi setelah ada deal-deal tertentu. Tentu saja mereka tak ingin lapor polisi, bisa panjang dan lebar urusannya. Biasa polisi pasti akan nanya SIM, STNK yang belum tentu mereka punya. Apalagi korban tidak memakai helm. Wah bisa berabe nih…damai saja aahh…
“Disini sering ada kecelakaan kok mas” si pemfoto kopi pun berkomentar.
“Kemarin dua kali, ya di depan situ” lanjutnya. Saya tersenyum.
“Jalannya sempit, pada ngebut. Perlu dibuat garis kejut kaya di jalan Karangkobar biar ga pada ngebut” akhirnya ide saya bicara.
** ** ** **
Kawasan kampus memang dikenal kawanan yang rawan. Ya rawan kriminal, lihat betapa banyak motor hilang di parkiran fakultas. Rawan asusila, kasus perbuatan amoral sudah bukan rahasia umum, hiii… Rawan kecelakaan, ya kaya cerita diatas. Jalan yang sempit dan lalu lintas yang padat terutama pagi.
Oia, maaf kejadian barusan saya ceritakan apa adanya. Mengapa kata “anjing” saya tulis, ya sekedar ingin menggambarkan betapa marahnya si pemuda. Kayaknya ia mahasiswa pendatang sebab ia ga bilang,” Hey, asu ya!”. Sejuta kali lagi maaf.. Gimana ga marah lagi enak - enak naik motor tiba-tiba jatuh, diserempet lagi, berdarah lagi tangannya.
Oke kita coba bahas kasus diatas, wih detektif Conan beraksi. Kedua orang ini bisa jadi sama-sama salah. Pertama, korban tidak pakai helm, ini kesalahan fatal, fatal sekali. Jangan bilang hukum lalu lintas tidak perlu ditaati gara-gara bukan hukum Tuhan lho, yang buat bukan Alloh Al-Hakiim, yang bikin pak polisi, si manusia biasa. Kata mereka yang berhak membuat hukum, aturan adalah Tuhan jadi ini hukum thoghut, mungkin ada orang yang bilang begitu. Astaghfirullah.. kacian deh lo…ngaji lagi sono…
Tapi mari kita lihat substansinya, memakai helm adalah salah satu anasir dalam maqashidusysyari’ah yakni hifdzul aql atau menjaga akal dan hifdzun nafs atau menjaga nyawa. Akal hanya ada di otak, dan otak itu di kepala. Otak lah yang mengendalikan segala hal yang terstruktur sempurna dalam jasad ciptaan Alloh Yang Maha Indah ini. Jadi eksistensi otak ini sangat amat penting. Ia harus dijaga sebaik mungkin. Otak kita bisa lebih hebat dari komputer paling canggih. Bayangkan bila kita berkendara ga pake helm, kita ngebut atau tidak, lalu Alloh Yang Menggengam setiap nyawa menakdirkan kita kecelakaan baik ditabrak atau menabrak, kita tersungkur. Rambut hitam kita bertemu dengan hitamnya aspal jalanan yang kasar. Darahpun mengucur dari batok kepala kita. Kita mengerang, perih. Lalu gelap, berderai air mata lah keluarga kita. Malaikat maut di depan mata sementara tanah kuburan menanti setia. Atau kita terbentur, kepala diperban, sobek atau gegar otak. Maka memakai helm selain taat pada peraturan lantas juga bentuk syukur kita pada-Nya. Ya, kita menjaga fisik kita yang sama sekali bukan milik kita. Semua itu untuk kebaikan kita kok. Jadi jangan karena ga ada polisi kita ga pake helm. Ada atau tidak ada polisi kita wajib pake helm.
“Kan pak polisinya ga tahu” temenku ngeyel
“Ya betul, tapi Tuhannya pak polisi selalu tahu. Malaikat juga tahu.” Jawabku singkat.
Kedua, si penabrak tidak memberi tanda/kode akan menyalip. Ada dua aturan penting saat akan mendahului kendaraan lain. Lampu sign (baca : sain), kata orang Jawa, lampu sen atau riting, padahal aslinya righting, karena memberi tanda akan belok kanan. Jadi fungsinya sebagai kode karena ga mungkin pake kata-kata, “Awas saya mau belok kanan !’ ga efektif, boros energy. Latah yang lain ada dalam dunia bal-balan, ada cornel, yang bener corner artinya pojok, corner kick, sepak pojok.
Jadi banyak orang malas memberi tanda righting padahal manfaatnya depan belakang. Yang didepan tahu akan ada yang nyalip terlihat dari spion –itupun kalau ada-, dari arah yang berlawanan juga pasti akan mengurangi kecepatannya dan mempersilakan ia menyalip atau nyebrang kanan. Dan yang dibelakang yang mau nyalip tahu kalau yang didepannya mau menyalip yang didepannya lagi jadi kalau dia mau nyalip mendingan ga usah nyalip daripada tetep nyalip padalah dia sudah diberi kode supaya ga nyalip yang mau nyalip, bingung ra? Tapi bagaimana pun si penabrat gentle juga, berhenti dan mau bertanggung jawab.
Satu lagi, yaitu klakson. Apa susahnya, apa ruginya, apa ga enaknya pijit tombol klason, sebentar, satu detik tapi manfaatnya luar baisa. Sebagaimana riting, bunyi klakson juga memberi tanda bahwa kita mau nyalip, istilahnya give me a thousand alias nuwun 1000. Klaksonlah tiga kali, ketika tepat kita di belakang yang mau disalip 1 kali dan persis disampingnya dua lagi. Kombinasi righting dan klakson saat menyalip itulah aturan yang benar. Yang pasti lebih cepet dari yang disalip dong, serta jaga jarak nyalip, kira-kira 50 cm – 1 m lah dari kendaraan yang disalip. Buatlah pola pelangi saat menyalip, fahim tum?
Ketiga, di jalan kampus perlu dibuat garis kejut di titik-titik tertentu seprti di tikungan, pas pintu masuk ke fakultas. Tujuannya untuk meredam nafsu ngebut para pengguna jalan. Meskipun saya yakin akan banyak penentangan seperti yang dulu pernah dilakukan pak polisi di kampus yakni penertiban motor. Sampai ada spanduk yang menamakan dengan Aliansi Mahasiswa Berdaulat di satu pagar kampus. Mereka menolak penertiban karena akan ada banyak yang kena tilang, yaa minimal teguran gara-gara tidak pake helm, cenglu alias boncengan telu, motir yang bannya ketuker sama ban pit tetangganya, motor yang ga ada spionnya. Logikanya merekalah yang terancam, artinya mereka lah yang terbiasa tidak tertib. Ha ha ha ketahuan kalian, dasar bodoh ! Bisa disimpulkan kampus memang sarang ketidakberesan. Maka wajar bila banyak pelajar SMA/SMK jadi berandalan wong kakaknya yang mahasiswa udah nyontoni. Mahasiswa yang katanya kaum intelektual ternyata tidak bisa menggunakan akal yang dengan baik. Mengenaskan…
Berikut 8 tips praktis safety riding di jalan raya :
1. Sebelum berangkat berdoalah dulu, usahakan berwudhu, cek bensin, SIM & STNK, KTP, kartu asuransi, cek juga tekanan ban –terutama yang mau pergi jauh keluar kota dan berdua. Cek juga klakson, lampu depan dan sen. Oia, rem depan dan belakang, cek dulu pakem ngga. Jas hujan, alat servis standar juga perlu
2. Pakailah helm standar yang menutup rapat sampai ke telinga dan berkaca bening biar matanya ngga pedes atau kelilipen (susah nyari padan katanya). Jangan hanya puas dengan helm ala tempurung kelapa apalagi helm pekerja proyek. Pake juga jaket, awas masuk angin karena susah ngeluarinnya. Pake kaos tangan, penutup muka eh hidung dan mulut serta pelindung dada buat yang shafar jauh. Pake kaos berlapis juga bisa.
3. Selama perjalanan patuhilah peraturan lalu lintas. Waspada ferboden, jalan licin, jalan berpasir, jalan becek ngga ada ojek. Kalau di perempatan traffic light atau pertigaan ada tulisan,”belok kiri jalan terus” jangan ditaati karena berbahaya. Belok kiri ya ke kiri masa’ jalan terus. Hati-hati ini jebakan, hanya pengendara yang cerdas lah yang bisa memahami, he he…
4. Jaga jarak aman dan stand by rem bila dibelakang bis, angkot atau truk sebab sewaktu-waktu mereka bisa berhenti mendadak. Jarak aman minimal 2 m sehingga bila tiba-tiba ada lubang di hati eh di jalan kita bisa menghindari.
5. Bila akan menyalip, berilah kode dengan righting dan klason dan segera melaju lebih cepat. Buatlah pola pelangi.
6. Bila terasa ngantuk, istirahat sejenak, carilah masjid, sholat sebentar lalu ngliyep (tidur sebentar). Atau carilah warung makan terdekat untuk mengusir kantuk. Lha piye malah tambah ngantuk, wis wareg sih… Hati-hati banyak kasus kecelakan yang disebabkan oleh kengantukan pengendara alias human eror.
7. Jangan sekali-kali SMS an, nerima telepon atau menelpon seseorang. Ini juga berbahaya. Naik motor itu perlu konsentrasi.. Bila mau SMSan, nerima atau menelpon lebih baik minggir dulu, berhenti dulu. Ingat keluarga menanti di rumah
8. Ucaplah hamdalah sesampainya di tempat tujuan, bersyukur pada Alloh yang menguasai zaman atas keselamatan yang diberikan. Kabari keluarga / teman yang ditinggalkan bahwa Anda telah sampai dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan gerbang kemerdekaan Indonesia yang bersatu, berdaulat adil dan makmur… Kalau bisa bawa oleh-oleh, hi hi.
Langganan:
Postingan (Atom)