Kamis, 25 Juni 2009

BayTi



Assalamu'alaikum wr.wb
Buat Bhayu Subrata.........
Semoga engkau selalu dalam naungan dan Ridho Nya
Bhayu......
Pada hari..........dengan nikmat dan Hidayat Allah s.w.t, kalian berdua sampai pada saat yang paling bahagia, tetapi juga paling mendebarkan dalam kehidupan mu. Kata pepatah
" today we begin sharing not just love but life".
Hari ini kamu baru memasuki babak baru dalam kehidupan mu, kalau dulu kamu adalah manusia bebas yang boleh pergi sesuka hati, bertingkah laku sekehendakmu. Tetapi sejak hari ini, bila kamu belum juga pulang hingga larut malam, di rumah ada seorang wanita yang tidak bisa tidur karena mencemaskanmu.Dahulu, bila kamu mendapat musibah mungkin hanya akan mendapatkan ucapan turut berduka cita dari sahabat-sahabatmu, tetapi kini ada seorang istri yang akan bersedia mengorbankan apa saja agar kamu dapat meraih kembali kebahagiaanmu.
Bhayu...
Wanita yang ada di sisimu ini adalah wanita yang dianugerahkan Allah untuk membuat hidupmu lebih bermakna, lebih indah, insya Allah. Ia adalah amanat yang akan kamu pertanggungjawabkan di hadapanNya.
Bahagiakanlah istrimu, mudah-mudahan ia menjadi istri yang membahagiakanmu bila kamu memandangnya,mematuhimu bila kamu menyuruhnya dan memelihara kehormatan diri dan hartamu, bila kamu tidak ada. Bantu dia untuk mewujudkannya.
Bhayu...
Kelak bila perahu rumah tanggamu bertubrukan dengan kerikil tajam, bila bukit-bukit harapan diguncang gempa cobaan. Tetaplah bersama, teguh di bawah naunganNya. There is no Problem, Challenge!!!! Adanya tantangan itu adalah sarana bagi proses pematangan rumah tanggamu.
Ada baiknya kamu baca lagi kisah Nabi Muhammad dan istrinya, Beliaulah teladan dari semua teladan. Ketika Khadijah meninggal dunia, Rasul senantiasa memujinya, apa yang beliau katakan "Tidak, demi Allah! aku tidak mendapatkan pengganti yang lebih baik dari dia..! Dia beriman kepadaku ketika orang-orang lain masih dalam kekafiran. Dia menaruh kepercayaan padaku ketika orang-orang lain mendustaiku. Dia membantuku dengan harta ketika tidak seorangpun bersedia memberikan sesuatu.
Dan ketika Rasul meninggal dunia, ada beberapa orang menemui Aisyah, memintanya agar menceritakan sesuatu perilaku nabi s.a.w. Aisyah sesaat tidak menjawab permintaan itu, air matanya berderai, kemudian dengan nafas panjang ia berkata " Ah...semua perilakunya indah!"
Semoga demikian juga denganmu
Ya Allah ijinkan mereka berdua menikmati kebersamaan ini dan ridhoilah semua langkahnya.
Amin
Salam bahagia,
Septi Peni Wulandani

Minggu, 21 Juni 2009



Tasyakuran One Day One Juz
-Sang Bayu-

Program One Day One Juz mulai bergeliat hebat. Siang itu, Senin 15 Juni 2009 saya diundang seorang binaan Mentoring Agama Islam (MAI) SMKN 1 Purwokerto. Saya sempat kaget saya diundang ke rumah Adhika di Sokaraja, kawasan sentra getuk goreng salah satu makan khas kota Purwokerto.
“Syukuran khataman One Day One Juz Mas, bisa datang kan Mas” jelasnya saat telpon malam itu dua hari yang lalu. Senyum manisku menembus langit kelam.

Ku putuskan untuk tidak shaum sunnah Senin-Kamis. Harusnya sih jadwalnya puasa, maklum mau nikah jadi ibadah harus tambah rajin, i’dad ruhy atau persiapan ruhiyah, iman dan taqwa. Sabtu kemarin sudah QL di mabit bareng temen-temen.
“Siang ini pasti makan-makan, wah nda enak nek puasa, ngga menghormati tuan rumah, shahibul hajat” batin ku.

Pukul.13.30 WIB saya baru sampai. Saya minta maaf terlambat. Alhamdulillah kelima temen Adhika yang tergabung dalam MAI D’ Yusuf sudah duduk santai sambil melahap snack. Saya pun disambut hangat oleh Pak.Bowo, ayah Adhika dan ibunya. Saya duduk. Tak lama kemudian seorang tua yang disebut guru ngajinya Adhika datang. Pak.Mahmud mulai bertaushiyah setelah Pak.Bowo yang kerja di MTs membuka acara.
“Anda semua seperti sedang berputar mengitari sebuah supermarket. Anda hanya lihat luarnya saja yang indah. Anda pasti ingin masuk dan mengetahui apa saja di dalamnya” Nah Mas Bhayu ini lah yang akan mengajak Anda semua ke dalam supermarket. Mas Bhayu lah yang akan mengajak mendalami Al-Qur an”
Ilustrasinya boleh juga. Ini salah satu kelebihan ulama NU, pandai dalam beretorika, beranalogi. Berprinsip ala Rasulullah Saw, bicaralah dalam bahasa kaummu, sesuaikan dengan audiens, ma’du. Saya harus banyak belajar dari beliau.

Betul sekali, saya memang akan mengajak mereka masuk, mendalami Al-Qur an dengan LMQ NURy YC. Atau saya punya cara sendiri, asli ide sendiri. Selain One Day One Juz saya juga mengupas 1 ayat per hari dari juz yang saya baca. Dengan itu saya bisa mentafakuri dan mendalami ayat demi ayat Al-Qur an.

Sebelumnya Pak.Bowo menyampaikan rasa senang atas prestasi anaknya. Kata beliau kalau yang menyuruh orang tua si anak tak jarang mengabaikannya. Tapi jika orang lain malah bisa. Ya, seringkali orang tua hanya menyuruh dengan kata-kata tanpa perbuatan. Ada kaidah bagus dalam dunia dakwah, lisanul haal afshohu min lisaanil maqal. Berkata dengan perbuatan, tindakan nyata, perilaku, kebiasaan lebih ampuh, lebih berdaya daripada berkata-kata saja. Ini yang perlu diperhatikan oleh semua orang tua dan calon orang tua.

Keteladanan, itulah kuncinya. Rasulullah Saw selalu mengedepankan aspek keteladanan, pelopor dalam beramal. Saat beliau memerintahkan satu amalan maka pastilah beliau sudah menjalankannya terlebih dahulu. Begitu pula dengan larangan, beliaulah yang pertama kali meninggalkannya. Ing ngarso sung tulodho, ing madya mbangun karso, tut wuri handayani, begitu kata pujangga, eh punggawa pendidikan Ki Hajar Dewantara. Kata pendiri perguruan Taman Siswa ini 3 sifat penting seseorang dalam kepemimpinan dan perubahan: tulodho, contoh/pelopor. Setiap individu muslim adalah pemimpin maka jadilah teladan dalam segalanya. Karso, motivasi/ ajakan,seruan. Membangun kemauan. Yang ketiga lupa-lupa inget…apa ya ? Cuma inget kuncinya he he he


BOROBUDUR TEMPLEIni untuk kesekian kalinya saya ke candi Borobudur, satu dari tujuh keajaiban dunia. Seingat saya terakhir saya ke sini saat masih balita sekitar tahun 85an. Foto saat saya sedang main-main di pelataran candi masih ada. Waktu itu saya sedang lucu-lucunya, sedang nakal-nakalnya. Golden Time, kata Bunda Septi, seorang Ibu Rumah Tangga Profesional sekaligus Direktur Jarimatika Pusat.
Acara tour ke Borobudur sebenarnya bukan agenda utama saya dan keluarga. Tapi karena deket jadi eman-eman nek ngga mampir. Pagi itu, Ahad 7 Juni 2009 kami ke Magelang untuk satu agenda penting yang menentukan masa depan ciee… Ya, hari itu saya mengkhitbah seorang akhwat. Bincang-bincang persiapan hari-H selesai meskipun masih perlu pematangan lagi.

Kembali ke candi terbesar Dinasti Syailendra. Banyak sekali perubahan di sana. Kami bertujuh janjian dengan seorang temen klub vespa Bapak. Pak.Dalang, begitu temen-temen biker memanggil pria berkumis lebat ini. Penyuka vespa antik ini adalah seorang security atau satpam di kawasan wisata Borobudur. Alhamdulilah, kita semua bisa masuk gratis. Padahal tarif normalnya Rp.15.000 per orang. Lumayan. Enak juga punya banyak temen. Seribu teman masih kurang tapi satu musuh terlalu banyak, begitu peribahasa berkata.
“Dia juga seorang dalang juga, jadi kalau malam Minggu atau liburan atau hari-hari tertentu, saat ada permintaan dia ndalang di sini” jelas Bapak sambil menyusuri jalur menuju candi.
Ramai sekali hari itu. Ratusan bahkan ribuan wisatawan datang untuk menikmati keindahan, kemegahan dan keajaiban candi. Beberapa bis pariwisata terlihat parkir rapi di halaman candi. Oh rupanya ada yang sudah liburan.Sesekali ku lihat wisatawan mancanegara sedang mengabadikan bangunan batu raksasa. Kita pun segera menaiki tangga demi tangga ke puncak Borobudur. Padat sekali sampai macet. Jalan naik seharusnya tidak dipakai untuk turun. Pemandu wisata berteriak serak menjelaskan bahwa jalan turun ada di samping. Tapi semuanya berebut. Semuanya ingin sampai di puncak dan menikmati keindahan alam dari sana. Subhanallah..Allohu Akbar.

Kita pun tak melewatkan moment langka ini untuk berfoto bersama. Narsis sih tapi memang seperti itu. Yang penting tidak over. Biasa saja. Sebagian besar wisatawan berpose dengan stupa tertinggi dan terbesar. Sebagian lagi cukup puas dengan stupa-stupa kecil yang mengelilingi candi.
Seketika teringat satu judul bab dari tulisannya Sayyid Quthb dalam buku’Beberapa studi tentang Islam’ berjudul ’Sang Penghancur Berhala’, aku pun ambil pose siap meninju sebuah arca singa di pintu salah satu gapura dalam candi.
Sempat kulihat beberapa arca yang cacat. Rupanya masih ada orang yang berani memenggal kepala arca dan menjualnya ke para kolektor atau ke luar negeri. Harganya bisa sangat mahal. Saya kira hukumannya sedikit dibawah para pembalak liar, perusak hutan Indonesia.
Turun dari candi, kita langsung diserbu pedagang yang tak kenal lelah (Lho kan pernah ketemu, kok ga kenal sih…) Sebagian lagi menggelar aneka gadangan di tepian jalan. Ada yang menjajakan baju, hiasan dinding, gantungan kunci hingga miniatur candi. Wah puas deh, jauh-jauh ga rugi, dapat akhwat, dapat wisatanya. Alhamdulillah, siap-siap waktu kita tak banyak, 20 hari bukan waktu yang lama. Bismillah. (tidak bersambung)